Ngomongin Pindahan euy Pindahan..
Saya jelas bukan orang sunda.Saya jelas bukan orang sunda. Tapi saya suka pake kata euy. Bukan kenapa-napa, saya jadi inget Project Pop, Bandung, LIBURAN dan Nasi yang di ujung jalan Riau itu
Jadi gini. Saya cuma mau mengumumkan kalau saya pindah *lagi* ke rumah baru saya. Alamatnya di http://alderinagracia.com mari, sekarang kalau main ke sana aja. Bisa juga subscribe ke feed saya. Buka di sana, semuanya lengkap dan kumplit. Pake sayur? Ga.
Saya pengennya sih balik ke rumah lama di http://alderina.com tapi ada orang atau usaha SIALAN yang beli domain itu. DUH SAPA SIH! Udah gitu, ga dipake cuma diparkir aja. Pengen rasanya nabok tuh orang atau usaha itu. SIALAN banget!
*gile gue marah-marah*
Baiklah, sekian pengumuman saya. Ga pake grafis keren-keren karena memang saya ga bisa dan pengennya kaya Gage itu, pakai halaman kosong aja dan tulisan BYE-BYE… tapi saya ga hosting sendiri dan ga bisa juga bikinnya. Ga tau ukuran standarnya kalau bikin sehalaman site itu berapa. Ada yang berminat kasih tau ga? Kasih tau dong.. Di rumah baru aja tapi ya.
Salam sejahtera dan damai
*setelah marah-marah, rada ga cocok*
serta MARI KITA BERJUMPA di
http://alderinagracia.com
*lambai-lambai tangan*
Selasa, 24 Februari 2009
Pk. 07.07 WIB
Saya belum tidur dari tgl 23 feb 09 jam 11 siang
Ngomongin Coldplay dan Viva La Vida-nya
I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to ownI used to roll the dice
Feel the fear in my enemy’s eyes
Listen as the crowd would sing
“Now the old king is dead! Long live the king!”One minute I held the key
Next the walls were closed on me
And I discovered that my castles stand
Upon pillars of salt and pillars of sandI hear Jerusalem bells a ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign fieldFor some reason I can’t explain
Once you go there was never
Never an honest word
And that was when I ruled the worldIt was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People couldn’t believe what I’d becomeRevolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be king?I hear Jerusalem bells a ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign fieldFor some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the worldI hear Jerusalem bells a ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign fieldFor some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world
Viva La Vida? Hidup kehidupan! Live life! Jadi suka lagu ini gara-gara dapat kursus singkat tentang perjalanan lagu-lagu di albumnya Coldplay yang baru itu. Sapa yang kursus-in? John… Sungguh kagum aku akan dirimu kak, terutama kalau sudah ngomong penanda dan petanda
Sungguh topik yang membuatku berpikir keras ketika sedang bersamamu.
Cobalah perhatikan apa kata-kata di dalamnya sodara-sodara. Anda akan menemukan kritikan dan sebuah kesenangan karena yang dikritik sudah berakhir
Ngomongin Knights of Apocalypse (Is Yuniarto, John G Reinhart dan Aswin)
Ini adalah satu hal yang super membanggakan. Akhirnya KOA edisi ke-3 kelar dan publish dan dijual di toko-toko buku. Hari Jumat kemarin sih baru kirim ke ekspedisi
Aku ikut ke acara launching di Gramedia Expo Surabaya, di Basuki Rahmat situ loh. Acaranya banyak yang datang dan bagaikan gathering saja. Menyenangkan dan melegakan untukku. Mengapa? Sebab John itu pacarku. Oleh karena dia suka sibuk, maka ga bisa pacaran. Kikikiki… Ga soal itu aja. Rasanya tuh lega gitu, akhirnya trilogi ini selesai. Kalau ga gitu, kan terasa ada hutang. Hutang untuk yang baca. Aku.
Apalagi adikku ikut menyumbangkan animasi buatannya di launching ini. Bukan KKN tapi karena emang Kevin KEREN BANGETS!
Kalau mau beli? Bisa… Bisa langsung email aku di alderinagracia@gmail.com nanti akan aku kirimkan. Emailkan juga alamat kirim dan berapa banyak. Nanti akan aku reply dengan jumlah yang harus dibayarkan dan caranya. Harganya Rp.17.000 per komik dan ongkos kirim tergatung tempat. Ngikutin tarifnya TIKI JNE. Btw, aku akan pakai rekening BCA, Niaga, Lippo. Untuk rekening lain, bisa diinformasikan lebih lanjut. Oke? Ini tuh bukan jualan, tapi pengen banget share sama temen–temen. Kadang untuk yang ga sabaran atau males ke toko buku (macam saya ini) lebih suka beli online. Nah ada caranya di sini XD
Beli online komik Knights of Apocalyse (KOA) edisi 1, 2 dan 3 lewat Sharon
Kalau pengen tahu reviewnya, ada di Jawa Pos online, blog fathirhamdi, Jawa Pos edisi kemarin Jumat (aku ga ada link ataupun skrinsyutnya sih)
Ngomongin Nilai Diri, Harga Diri dan Diri Diri
Sekadar merenung ketika berjalan dari Surabaya ke Sidoarjo. Malam-malam, hujan dan kaca depan mobil tidak terlalu jelas… Sungguh seram. Namun itu tidak menghalangi keinginanku untuk merenung. Cieh…
Akhir-akhir ini lagi merasa nilai diri banyak manusia di Indonesia sedang jatuh atau merosot. Mengapa?
-
Keperjakaan dan Keperawanan yang Terus Ga Jelas Maknanya
-
Polisi Cepe-an alias Polisi 100 rupiah *yang Sekarang Ga Hanya Dikasih 100 Rupiah*
-
Penjualan Anak Bawah Umur untuk Bekerja yang Makin Banyak Kedengeran di Berita Maupun di Gosip/Bisik-Bisik Tetangga
Kadang suka merasa, kenapa cuma cewek yang diributin kalau ga perawan? Padahal cowok juga punya keperjakaan. Lebih bagus bahasa Inggrisnya sih, VIRGINITY. Kan tidak memihak gender maupun yang pengen ga pake gender…
Aku berpikir semakin banyak orang yang sudah ga peduli sama hal ini. Ini ngomongin sisi baiknya ya. Ada saat-saat dimana kita bodoh dan menyerahkan keVIRGINITYan kita ke orang yang salah. Setelah hubungan ga jalan dengan baik, putus dan merasa nyesel karena salah perkiraan. Kirain bakal ama dia terus, ternyata gak juga. Lalu pacaran lagi sama orang lain. Tentu kasih tau ke pacar baru apa yang terjadi dengan diri sendiri, ga mungkin ga ngasih tau. Hubungan macam apa itu kalau ga jujur dari awal. Penipuan itu namanya XD Lalu si pacar baru mempertimbangkan dan berkata, “Bukan itu alasanku memilihmu.” Selesailah rasa deg-degan. Jangan-jangan tuh cowok ga mau ama gue krn ini dan itu.
Cowoknya baik kan. Tapi ketika kita sedang bodoh, nilai diri kita lagi berapa sih? Lagi 100 (skalanya 1 – 100) atau lagi 1? Kenapa waktu itu kita kasih? Gimana-gimana ada dong perasaan, “Aduh kenapa ga bisa kasih yang utuh ke cowok yang baru ini?” Dengan asumsi cowoknya yang baru lebih oke dan lebih-lebih lain. Kadang waktu kita bodoh, kita tuh lagi dalam keadaan bernilai diri super rendah. Kenapa? Karena mungkin tekanan… Harus buktikan cinta? Merasa ingin buktikan cinta? Merasa cinta dia?
Cinta diri sendiri adalah awal cinta sama orang lain. Menilai diri sendiri dengan angka 100 berartiĀ juga menilai orang lain dengan angka 100. Karena PeDe dan tahu benar apa yang akan dan sedang dituju dalam hidup ini. Mencintai diri sendiri berarti melihat bahwa dirinya selalu punay nilai 100. Sempurna. Bukan kepedean atau sok sempurna, karena kepedean berarti tidak pede, mirip seperti sombong itu kata lain dari minder… Berkata tidak untuk hal-hal yang ga perlu untuk dilakukan sekarang merupakan bentuk lain dari rasa percaya diri. Sadar benar siapa dirinya.
Aku pikir kalau ada orang ingin menyerahkan dirinya sebelum menikah karena punya pemikiran bahwa menikah hanya soal paper work, lagian apa bedanya kaya kawin cerai gitu kan. Itu terserah sih, tapi kalau aku pengennya kalau udah nikah ya nikah aja. Ga pake cerai. My word is my bond. Kalau udah berkomitmen, masa mau lepaskan komitmen? Kalau buat kaum adam, Ga Gentleman dong…. Kalau buat kaum hawa apa ya? Hm… Ga konsisten doms. Atau sekalian aja, ga usah nikah sama sekali… Lebih asik kan.. Hahaha.. kaco de gue.
Waktu nyetir itu, aku melewati sebuah U-Turn atau putar balik. Aku sudah tahu kalau ada mobil yang akan putar balik, dalam rangka tuh mobil baru akan dan aku sudah deket banget di putar baliknya, aku dim. Dim itu lampu yang nyorot itu loh. Si polisi cepeannya, supaya ga ngelolosin mobil tsb. Tapi apa yang tuh orang lakukan? Dia malah MEMBERIKAN DIRINYA. Alias, menghadang mobilku dengan badannya… Alias, tetep aja jalan ke tengah jalan, meski sudah ku dim. Aku tetep lewat karena ga mungkin ngerem, kalau ngerem adanya tabrakan beruntun. Lumayan cepet sih nyetirnya… *katauan hobi ngebuts* Tuh orang udah deketttttt banget sama mobilku. Sampe aku sendiri geli…
Herannya, dia tuh mikirin nyawanya ga sih waktu melakukan itu? Berapa nilai diri dia waktu itu? 1? Atau lebih tepatnya seharga uang yang dikasih sama mobil tadi. Padahal kadang mobil-mobil suka malas kasih duit ke polisi cepean. Padahal nilai nyawa dia tuh jauh lebih daripada sekadar uang. But, kalau ga dapat uang berarti ga bisa makan dan berarti mati lama-lama. Hm, ini nih yang sampai sekarang aku bingung. Lingkaran setan bener gitu.
Ga, bukan tetangga gue yang jual anaknya. Tapi kalau lagi cerita-cerita sama teman-teman, selalu aja tau kalau anaknya yang minta-minta di perempatan A itu bukan anak asli dll. Secara temanku itu emang hobi menelusuri anak-anak jalanan, entah cuma survey atau emang lagi ada project dari gereja. Tukang survey gereja lah dia XD
Kenapa seorang Ibu menjual anaknya? Atau menjadikan anaknya seorang pekerja. Memang baru mengemis, bukan melacur *kalau melacur lebih mikir lagi* tapi kenapa? Nilai diri anak itu lebih dari cuma mengemis aja.
Buat aku, nilai diri yang sedang rendah ini merupakan bentuk lain dari KEHILANGAN HARAPAN. Dibikin miring dan berwarna biru supaya keliatan melankolis dan feeling blue XD Aku pikir ketika seseorang punya harapan untuk masa depannya, pasti dia akan menjaga dirinya. Ada hubungannya juga dengan pendidikan. Ada hubungannya juga dengan pemerintahan.
Kalau melihat situasi sekarang yang serba salah dan susah ini, ga salah kalau kita sering kehilangan harapan. Lagi enak-enak bisnis A, tiba-tiba jatuh gitu aja dan harus tutup. Kalau sudah kepepet keadaan, ya sudahlah, apa saja dilakukan. Benarkah kita harus jadi orang seperti itu?
Pendidikan yang bersifat sepenuhnya atau seluruhnya akan membantu seseorang untuk memahami nilai dirinya. Pendidikan yang kaya apa sih? Sudah pernah nonton Laskar Pelangi kan? Lihat bagaimana sebuah pendidikan yang ga cuma mementingkan otak membuat anak-anak itu punya harapan. Di saat mereka seharusnya ga punya harapan. Mereka ga pernah menyalahkan keadaan tapi berusaha membuat keadaan lebih baik. Kalau ada hal yang bisa kita ubah dari hidup kita, hal itu adalah sikap kita terhadap keadaan kita. Kalau berhenti punya harapan dan kemudian bilang, “ya abis gimana dong..” dst, ya udah, selamanya kita akan jalan di tempat. Soalnya, kita tuh ga akan pernah merasa puas kok. Biarpun keadaannya sudah berubah, kalau kitanya dari awal tidak puas maka tetap saja kita akan berada di sana.
Nilai diri juga bicara mengenai perasaan puas dalam diri. Karena sadar betul siapa dirinya, apa yang akan dia tuju dan sebagainya. Aku pernah berpikir, kalau punya anak jadi pengen nyekolahin anak di sekolah yang : belajar tidak hanya lewat buku, banyak pratikum, punya kegiatan kepemimpinan, punya kegiatan yang bersifat melek masyarakat, mengajarkan bahasa daerah dengan sungguh-sungguh, mengajarkan bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh, gurunya ga pernah bilang kalau pelajaran IPA atau matematika adalah pelajaran terpenting, gurunya tidak menilai murid dari nilainya tapi dari kemampuan individual anak, mengajarkan untuk mencintai bangsa Indonesia dan keragaman budayanya, menerapkan Iman dalam setiap laku guru maupun anak… Adakah sekolah demikian? Sekolah yang ga menghancurkan nilai diri seorang anak karena kemampuan menghafalkan jenis-jenis lensa – nya tidak sempurna padahal anak itu sangat pandai dalam bermusik >> dengan mengatakan : gini aja ga bisa, ini gampang. Kamu dan temanmu sama-sama makan nasi, jadi sama bisanya. DUH NAIF banget sih jadi guru. Emang kemampuan seseorang ditentukan oleh apa yang dimakan?
Menilai diri sendiri selalu dimulai sejak masih dalam kandungan. Menilai diri sendiri adalah sebuah proses. Sebuah dasar yang kuat tentu akan menolong kita untuk selalu memandang diri kita 100 dalam proses hidup.
Just, a taught in the night
Ngomongin Pemikiran Random tentang “Pemilihan Umum” Beberapa Waktu Ini
- Kenapa sih ganti dari coblos ke contreng? Supaya ada orderan tinta pulpen? Adanya pulpennya dah macet karena kelamaan dan kering…
- Banyak bener ya poster-poster calon-calon legislatif.
- Merasa legislatif ga penting karena cuma pengen gaji buta aja… *nuduh*
- Itu yang mau jadi presiden ga ada yang lain ya?
- Ada presiden yang mau nanggulangi masalah dengan langkah-langkah konkrit yang mudah dimengerti semua orang ga sih?
- Nasibnya lumpur lapindo setelah ganti presiden dan pejabat-pejabat gimana ya? Kan mesti MEMPELAJARI dulu masalahnya ya…. Alesan tuh.
- Cape liat pemilu, calonnya banyak dan ada beberapa yang kenal. Tapi justru karena kenal ga bakalan mau milih mereka. Secara emang ga kompeten serta tidak nasionalis serta cuma pengen jabatan dan keliatan pinter aja. Malesssss


