Life is a Gift

Ngomongin Bersih Hati (Belajar dari Mr. Adrian Monk)

with 4 comments

Akhir-akhir ini aku hobi banget nonton MONK. Silahkan di google sendiri. Monk adalah seorang detektif yang juga memiliki satu perbedaan dengan orang-orang lain. Bukan jeniusnya Monk tapi karena dia tuh punya kecenderungan untuk membereskan segala sesuatu, ga tahan liat barang mencong (miring2 gitu), ga tahan liat jorok-jorok, salaman sama orang harus dilap setelahnya dan masih banyak keanehan lain. Ada bahasa keren psikologinya, tapi ya gitu de, aku ga bisa nulisnya dan malas google in buat anda *busuk*. Masih tetanggaan ama obsesif kompulsif kok.

Satu hal yang aku perhatikan. Monk tuh orang yang sangat bersihan. Ga bisa liat kekotoran ataupun sesuatu yang tidak pada tempatnya. Menurut aku, orang tuh kelakuannya mencerminkan apa yang ada di hatinya dia. Misal, kalau kamarmu jorok : berarti di hati kamu lagi jorok *Gee, tulisan ini menohok diri saya sendiri*. Nah berhubung Monk itu bersih hatinya, maka dia bersihan. Bersih yang bisa dilihat. Gitu de. Makanya kenapa Monk dengan mudah melihat suatu kejahatan. Bukan hanya karena dia emang pada dasarnya detil (detil karena apa yang sedang dialaminya sih) dan ketika orang lain bilang itu bukan kejahatan, hatinya selalu sadar ada yang salah. Btw, ada yang tau ga kalau hati juga punya memori? Hati di sini jantung ya. Secara bahasa inggrisnya hati itu heart, yang adalah jantung.

Written by Sharon

7 February 2009 at 11:08 am

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Btw, ada yang tau ga kalau hati juga punya memori?

    Nggak lah, hati itu ‘cuma’ alat pompa darah, gak punya perangkat sama sekali untuk berpikir atau mengingat. Ketika orang membicarakan ‘hati’ sebagai kiasan, sesungguhnya yang mereka bicarakan itu ya otak juga; jadi saya agak kurang setuju dengan dikotomi otak versus hati.

    hm, berat juga ya pembicaraan kita :D
    Aku mengakui kalau belum benar-benar baca. Aku juga diceritain orang sih. Jadi, ada orang yang harus ganti jantungnya, ya sakit lah ya. Orang yang ganti jantung udah tua, dapat jantungnya anak muda. Setelah ganti jantung ini, orang tua yang ga pernah suka sama musik rock, tiba2 suka ama musik rock dengan band tertentu yang ternyata sangat disukai sama anak muda itu :D Cuma cerita sih :D

    Catshade

    7 February 2009 at 12:40 pm

  2. Eh, ternyata nggak sesederhana itu ding; berikut saya kutip dari [sini]:

    Memory cells, or T cells, are part of the immune system and carried in the blood stream. Due to the fact that they are carried in blood, the heart does help pump them, but it does not “have” memory cells of its own.

    Hipotesisnya, kalau ada sel-sel memori yang masih tertinggal di jantung ketika ia ditransplantasikan ke tubuh baru, maka bisa saja terjadi hal-hal seperti itu. Harus diperhatikan pula sih kalau belum ada penelitian yang mengkonfirmasi dugaan ini… :?

    iya betul juga…

    kira2 akankah ada yang tertarik meneliti? atau jangan-jangan udah diteliti tapi kita belum baca?

    Catshade

    7 February 2009 at 1:34 pm

  3. eh si Monk itu kaya’ tokoh yang dimainin Leonardo Di Caprio di film Aviator itu ya ? yang sangat terobsesi pada kebersihan ?? :D

    kayanya sih.. (lupa sama aviator)

    :P tapi cinta kebersihannya iya banget

    Fenty

    7 February 2009 at 5:33 pm

  4. monk ?? temennya conan

    mirip. sesama detektif ceritanya :D

    ario saja

    7 February 2009 at 8:29 pm


Leave a Reply